Toleransi

Sebuah judul yang seakan-akan membakar kaum sumbu pendek tentang adanya toleransi dalam kehidupan bermasyarakat.

Akhir-akhir ini, mendekati setiap akhir tahun polemik bergejolak tentang pro dan kontra mengenai ucapan "selamat natal" bagi teman-teman umat Nasrani. 

Mereka terus berdebat seakan-akan mereka ini layaknya Tuhan, mereka yang teriak Haram-haram ini tidak berkaca pada diri mereka. Disini saya tidak menentang Tuhan atau ajaran nya sekalipun, ini semua untuk keberlangsungan hidup orang banyak dan bukan hanya untuk golongan mereka saja. 

Tidak sedikit Orang-orang yang sok kritis itu menyebutkan tentang hadist ataupun pedoman mereka tentang bahaya nya memberi ucapan kepada mereka-mereka yang sedang merayakan Hari Besar Mereka, apa susahnya bertoleransi? 

Dari sekian banyak polemik yang mereka perdebatkan, bahkan yang terbaru ada sebuah Lembaga Agama di suatu daerah yang dengan lantang untuk membuat fatwa bahwa mengucapkan "Selamat Hari Natal" itu hukum nya Haram bagi masyarakat umum kecuali untuk Bapak Presiden berikut wakilnya. Hehehe

Sebenarnya masih banyak polemik-polemik tentang lucunya Negri ku ini, namun yang masih menjadi pergunjingan besar adalah masalah ini. Berkaca pada Negar-negara lain sudah membahas kemajuan teknologi, di sini malah masih membahas tentang pro dan kontra sebuah ucapan hari besar. Lantas kita kapan dapat berkembang? Entah lah.

Negara ku ini memang lucu, akan tetapi saya pribadi tidak bisa tertawa lepas untuk menertawakan kekonyolan yang ada di Negri ku yang ku tinggali ini.

Sekali lagi, selamat merayakan Natal ya mas, mbak, pak, bu yang merayakan nya. Salam hangat dan jabat erat toleransi.

Dari saya, yang beragama Muslim yang masih ingin berlangsung hidup secara tentram tanpa memandang Agama, Suku dan Ras. Salam 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perjalanan menuju ke-4 dan (semoga) seterusnya

Carut-marut tiada akhir