Carut-marut tiada akhir
Dari dini hari menuju rabu pagi, rasa cemas berlebih yang tak biasanya datang tanpa aba-aba permisi. Akhir-akhir ini malas sekali rasanya membahas tentang perjalan PSS untuk mengarungi musim 2020, salah satu alasan yang menjadi tolak ukur pembahasannya adalah tentang orang-orang tak berkompeten yang masih duduk dibagian management yang tak lagi menghiraukan suporternya yang begitu peduli. Sadar karena tidak sedikit orang-orang yang bergantung dibawah naungan nama PS Sleman. Ketika kritikan dibungkam, latihan yang di pindah ke Ibukota secara dadakan dan masih banyak hal konyol yang menjadi kesalahan orang-orang dengan pemilik kuasa di klub PSS.
Minggu ke-4 di bulan Januari. kabar datang silih berganti namun entah berasal dari mana sumbernya, kabar burung pertama mencuat tentang berhembusnya pemain dengan label bintang menjadi incaran, tidak cuma 1 pemain yang ingin didatangkan untuk menambal kekurangan pemain. Entah ini hanya sebagai pemantik atau skenario guna mengembalikan rasa percaya diri sleman fans untuk berbondong-bondong datang ke stadion dan kembali menyaksikan PSS berlaga untuk misi pemasukan klub setelah timbulnya rasa kecewa karena Bapak CEO terkesan acuh kepada suporter. Tau ah gelap.
Pertanyaan baru muncul, lantas siapa kah yang akan membiayai untuk mendatangkan para pemain bintang tersebut?
Setelah itu ada isu-isu yang berhembus, tentang adanya investor baru datang yang siap untuk membeli saham mayoritas yang dipegang oleh seorang penguhasa itu. Kabar berhembus kencang di lini masa, tidak sedikit akun-akun twitter menyebar info-info paling valid berjamur. Dan anehnya masih banyak saja yang begitu senangnya dengan berita tersebut, walau pada akhirnya sebagian dari kita yang mempercayai berita tersebut hanya dijadikan komoditi terpanas bagi pembuat isu-isu yang beredar. Tidak sedikit dari kita hanya dibuat untuk merasa senang namun tak pernah sadar setelahnya kita hanya dibuat untuk bersedih, seperti halnya dihempaskan ke langit kemudian dijatuhkan tanpa dibekali parasut.
Kabar-kabar"makcruing" semakin santer berkeliaran di sosial media, entah dengan landasan apa mereka membuat rumor yang membuat sebagian suporter super elja luluh dan membuat kegirangan seakan-akan lupa akan tuntutan yang telah disepakati dalam forum besar. Namun nyatanya dari sekian banyak info sok A1 itu tak banyak yang menjadi kenyataan. Teruntuk kalian-kalian yang mengamini tentang info-info A1 yang beredar, walau nyatanya tidak benar adanya. Sabar dulu jangan terus mencaci maki akun-akun itu, karena tanpa kalian sadari kalian juga ikut andil dalam penyebaran berita tersebut. Tetap legowo, lha wong nyatanya PSS belum sepenuhnya sembuh dengan kekonyolannya ini.
Kemudian mengenai tentang tuntutan-tuntutan yang dilayangkan, apakah akan direalisasikan atau akan layu dengan sendirinya. Yang jelas, tuntutan ini akan selalu digaungkan demi PSS ke arah yang lebih baik dan profesional.
Layaknya tanaman yang sedang tumbuh dan menuju berbunga, alih-alih bunga nya akan mekar dengan sempurna, namun nyatanya malah menuju layu karna kurangnya pencahayaan dan asupan protein tumbuhan yang dibutuhkan untuk menjaga keberadaannya guna masa pertumbuhan. Tak lain berbeda dengan ekosistem alam yang selalu di ambil hasil alamnya untuk diperjualbelikan guna menumpuk pundi-pundi keuangan bagi penguasa yang merangkap jabatan juga sebagai pengusaha, tak ada timbal balik untuk sesekali peduli dengan kondisi alam akhir-akhir ini.
Tentang siapapun nanti yang menjadi pemilik saham PSS, entah itu perseorangan ataupun organisasi. Berdoa terbaik supaya PSS segera sembuh dari kondisi ini, semoga saja untuk menjadi klub sepakbola yang profesional segera terealisasikan.
Himbauan:Tulisan ini tidak menganjurkan teman-teman yang ingin menonton PSS dilaga kandang ataupun menemani PSS dilaga tandang, silahkan temani PSS ketika berlaga. Namun saya sebagai penulis masih tetap pada pendirian awal, jika PSS belum sembuh seutuhnya. Maka, tak sudi kaki ini menginjakkan ke stadion guna menemani PSS berlaga.
Komentar
Posting Komentar